Sejarah Khawarijin, Sang penebar teror

A.    Awal Penyimpangan
Khawārij (bahasa Arab: خوارج) secara harfiah berarti “mereka yang keluar” ialah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya.Nama ini diberikan kepada mereka yang keluar dari barisan ali. Khawarij sebagai sebuah aliran teologi adalah kaum yang terdiri dari pengikut ali bin abi thalib yang meninggalkan barisannya, karena tidak setuju terhadap sikap ali yang menerima arbitrase sebagai jalan menyelesaikan persengketaan kekhalifahan dengan Muawwiyah bin abi sufyan, mereka menganggap Imam Ali tidak tegas.
Mereka (para pengikut Ali) yang keluar dari barisan ali ketika berlangsung peristiwa tahkim (arbitrase) kemudian berkumpul disuatu tempat yang bernama harura (bagian dari negeri kufah) sehingga Ali menyusul mereka , bermaksud meluruskan dan mengembalikan mereka kepadanya dalam satu barisan.
Pimpinan mereka diantaranya Abdullah bin Al-Kawa, Utab bin al-A’war, Abdullah bin wahab al-Rasiby. Mereka berpendapat bahwa Ali, Muawwiyah, kedua yang menjadi wakil masing-masing kubu dalam perundingan, yaitu Amr ibnu al-Ash dan Abu Musa al-Asy’ari,  serta semua orang yang menyetujui tahkim (arbitrase) sebagai orang yang bersalah dan menjadi kafir. Demikian orang yang berbuat zina menurut mereka dosa besar, kafir, dan keluar dari Islam. Begitu pula orang yang membunuh sesama manusia tanpa sebab-sebab yang sah adalah dosa besar, keluar dari islam dan menjadi kafir. Demikian pula dengan dosa-dosa besar lainnya, dapat mengakibatkan keluar dari islam dan kafir.
Kejadian ini menimbulkan krisis baru dalam dunia Islam.  Setelah acara tahkim usai dengan hasil yang sangat merugikan Imam Ali , permasalahan ternyata belum selesai. Orang Khawarij membuat ulah lagi dengan mengkafirkan Ali r.a. dengan berkata,
كفرت لأنك حكمت رجالا في حكم الله, إن الحكم إلا لله
“Anda telah kafir karena Anda telah menyerahkan urusan tahkim kepada orang dalam hukum Allah. Tiada yang berhak menghukum melainkan Allah.”
Dan mereka keluar dari pasukan Ali –jumlah mereka sebanyak 12.000 orang–, maka terpaksa Ali menghadapi mereka dan menyuruh Ibnu Abbas untuk berdiskusi dengan mereka. Mereka menyatakan ketidakpuasan terhadap proses dan hasil perundingan tersebut dengan menyatakan “Laa hukma illallah”. Hal ini aneh dan sangat konyol, mengapa? Karena setelah perundingan selesai mereka malah berbalik menentang Tahkîm, padahal tadinya mereka juga mendesak ‘Ali menerima Tahkîm. Sekarang mereka kemukakan alasan-alasan yang bersifat teologis, untuk mendukung pandangan dan sikap politik mereka. Menurut mereka, Tahkîm salah karena hukum Allah tentang pertikaian mereka sudah jelas. Mereka yakin kubu ‘Ali lah (dalam konflik dengan kubu Mu’awiyah) yang berada di pihak yang benar. Kubu ‘Ali yang beriman. Tahkîm berarti meragukan kebenaran masing-masing pihak. Hal itu bertentangan dengan Al-Qur’an. Mereka teriakkan Lâ hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah). Mereka meminta ‘Ali mengaku salah, bahkan megakui bahwa dia telah kafir kerena menerima Tahkîm. Mereka desak ‘Ali supaya membatalkan hasil kesepakatan Tahkîm. Kalau tuntutan mereka dipenuhi mereka akan kembali berperang di pihak ‘Ali. Tentu saja ‘Ali menolak. Kesepakatan tidak boleh dilanggar. Agama memerintahkan kita untuk menepati janji. Kalau ‘Ali mungkir janji koalisinya akan semakin pecah. Lagipula bagaimana mungkin dia mau mengakui dirinya telah kafir, padahal dia tidak pernah berbuat musyrik semenjak lahir. Imam Ali pun memberi komentar dengan ucapan yang masyhur, ”Kata-kata haq yang  dimaksudkan bathil, sungguh mereka tidak ingin adanya pemimpin dan harus ada pemimpin yang baik ataupun jahat”.
B.    Kebengisan Khawarijin
Dalam mengajak umat mengikuti garis pemikiran mereka, kaum Khawarij sering menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah.Hal itu dikarenakan mereka pada umumnya terdiri dari orang-orang arab baduwi (kebanyakan dari Bani Tamim) . Kehidupan dipadang pasir yang serba tandus menyebabkan mereka bersifat sederhana baik dalam cara hidup maupun pemikiran. Namun mereka keras hati, berani, bersikap merdeka, tidak tergantung pada orang lain dan cenderung radikal. Perubahan yang dibawakan agama kedalam diri mereka, tidak mampu mengubah sifat-sifat badawi yang mereka miliki itu. Mereka tetap bersikap bengis, suka pada kekerasan dan tak gentar menghadapi mati. Karena kehidupan sebagai badawi menyebabkan mereka jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran islam sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis mereka pahami secara literal atau lafdziyah serta harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dalam paham mereka bercorak sederhana, sempit, fanatik dan ekstrim. Iman yang tebal tetapi sempit, ditambah dengan sikap fanatik, membuat mereka tidak dapat mentolerir penyimpangan terhadp ajaran islam menurut mereka. Maka dalam kasus kekinian, khawarij sering di”sama”kan dengan  wahabi (wahabi=Khawarij modern?).
Mereka (Khawarijin) bahkan merencanakan untuk membunuh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib, tapi yang berhasil mereka bunuh hanya Ali bin Abi Thalib saja. Sebenarnya Ali memiliki kesempatan untuk menghabisi Khawarij dengan tuntas, namun Khawarij mengirimkan Abdurrahman bin Maljan Al Muradi untuk membunuh Ali, usaha ini berhasil, Ali terbunuh di Masjid dengan pedang pada keningnya pada waktu sholat.
Tidak begitu lama keluar dari kelompok Ali, mereka menunjukan cacat dalam ucapan maupun amaliyahnya. Pandangan dan pemikiran mereka mulai menyimpang dari kebenaran. Mereka mengecam Ali, menjelek-jelekannya serta mengajukan protes terhadap kepemimpinan Ali. Mereka juga mengecam khalifah terdahulu, Utsman bin Affan serta mencela setiap orang yang tidak mau memusuhi Ali. Dalam menghadapi mereka, Ali bersikap defensive tapi setelah mereka mulai menggunakan kekerasan dengan terbunuhnya Abdullah bin Khabab. Pertarungan antara pihak Ali dan kelompok khawarij membawa korban pada pihak khawarij termasuk pemimpin mereka Ibnu Wahb, peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Nahrawan.
C.    Pokok Aqidah Khawarij
Sekalipun Khawarij telah beberapa kali memerangi Ali dan melepaskan diri dari kelompok Ali, dari mulut mereka masih terdengar kata-kata haq. Iman Al Mushannif misalnya, pada akhir hayatnya mengatakan,
”Janganlah kalian memerangi Khawarij sesudah aku mati. Tidaklah sama orang yang mencari kebenaran kemudian dia salah, dengan mencari kebathilan lalu ia dapatkan. Amirul mukminin mengatakan, bahwa Khawarij lebih mulia daripada Bani Umayyah dalam tujuannya, karena Bani Umayyah telah merampas khalifah tanpa hak, kemudian mereka menjadikannya hak warisan. Hal ini merupakan prinsip yang bertentang dengan Islam secara nash dan jiwanya. Adapun Khawarij adalah sekelompok manusia yang membela kebenaran aqidah agama, mengimaninya dengan sungguh-sungguh, sekalipun salah dalam menempuh jalan yang dirintisnya”.
Khalifah yang adil Umar bin Abdul Azis, menguatkan pendapat khalifah keempat yakni Ali, dalam menilai Khawarij dan berbaik sangka kepada mereka,
“Aku telah memahami bahwa kalian tidak menyimpang dari jalan hanya untuk keduniaan, namun yang kalian cari adalah kebahagian di akhirat, hanya saja kalian menempuh jalan yang salah”.
Sebetulnya, yang merusak citra Khawarij adalah sikap mereka yang begitu mudah menumpahkan darah, terlebih lagi darah umat Islam yang menentang atau berbeda dengan pemikiran mereka. Dalam pandangan mereka darah orang Islam yang menyalahi pemikiran mereka lebih murah dibanding darah non muslim.
Walaupun Khawarij berkelompok-kelompok dan bercabang-cabang, mereka tetap berpandangan sama dalam dua prinsip : Pertama, Persamaan pandangan mengenai kepemimpinan. Mereka sepakat bahwa khalifah hendaknya diserahkan mutlak kepada rakyat untuk memilihnya, dan tidak ada keharusan dari kabilah atau keturunan tertentu, seperti Quraisy atau keturunan nabi. Kedua :Persamaan pandangan yang berkenaan dengan aqidah. Mereka berpendapat bahwa mengamalkan perintah-perintah agama adalah sebagian dari iman, bukan iman secara keseluruhan.
Siapa saja yang beriman kepada Allah, kepada rasul-Nya, medirikan sholat, berpuasa dan mengamalkan segala rukun Islam dengan sempurna lalu ia melakukan dosa besar, maka orang tersebut menurut anggapan Khawarij telah kafir. Wallahu a’lam.

Posted on Januari 29, 2012, in Agama, Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: